HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015

Penulis

  • Tri Wahyuni Prodi D3 Kesling Purwokerto
  • Asep Tata Gunawan Prodi D4 Kesling Purwokerto

DOI:

https://doi.org/10.31983/keslingmas.v35i1.3088

Kata Kunci:

Lingkungan Fisik Rumah, Tb paru

Abstrak


Salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian Tb Paru BTA positif adalah lingkungan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.Puskesmas II Kembaran merupakan puskesmas yang paling tinggi Tb Paru BTA (+) yaitu sebesar 69 kasus.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian Tb Paru BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas II Kembaran tahun 2015.Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan metode case control.Variabel yang diteliti meliputi luas jendela ruang keluarga, luas jendela kamar, luas ventilasi ruang keluarga, luas ventilasi kamar, kepadatan penghuni, jenis lantai dan jenis dinding. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Luas jendela ruang keluarga (p=0,229;OR=1,974), luas jendela kamar (p=0,531;OR=1,818), luas ventilasi ruang keluarga (p=0,026; OR= 0,229), luas ventilasi kamar (p=1,000;OR= 0,643), kepadatan penghuni (p=0,004;OR=7,875), jenis lantai (p=0,026;OR=10,545),dan jenis dinding (p=0,004;OR= 7,875) Kesimpulan dari peneliti ini adalah ada hubungan antara luas ventilasi ruang keluarga, kepadatan penghuni, jenis lantai, jenis dinding dengan kejadian Tb Paru BTA Positif dan tidak ada hubungan antara luas jendela ruang keluarga, luas jendela kamar, luas ventilasi kamar dengan kejadian Tb paru BTA positif.

Biografi Penulis

Tri Wahyuni, Prodi D3 Kesling Purwokerto

Alumni Prodi D3 Kesling Purwokerto

Asep Tata Gunawan, Prodi D4 Kesling Purwokerto

Dosen Prodi D4 Kesling Purwokerto

Referensi

Aristatika Nur Pratiwi (2011). Hubungan faktor
lingkungan fisik rumah dengan kejadian TB Paru BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas Mrebet Kabupaten Purbalingga tahun 2011, KTI, Purwokerto: Kementerian Kesehatan RI Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto.
Azrul Azwar, (1986).Pengantar ilmu kesehatan
lingkungan, Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Baskoro Iwan Santoso (2009) Hubungan kondisi
fisiologis rumah dengan kejadian TB BTA (+) di Puskesmas Bobotsari Kabupaten Purbalingga tahun 2009, KTI, Purwokerto: Kementerian Kesehatan RI Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto.
Depkes RI. (2002).Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. (2002). Pedoman Teknis Penilaian
Rumah Sehat, Jakarta: Ditejen PPM dan PLP Djasio Sanropie, dkk., 1989, Pengawasan Kesehatan
Lingkungan Pemukiman untuk Institusi
Pendidikan Tenaga Sanitasi Kesehatan Lingkungan, Jakarta:Pusdiknakes Depkes RI.
Hiswani (2009).“Tuberkulosis Merupakan Penyakit
Infeksi Yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. Http://library.usu.ac.id/download/fkmhiswani6.pdf2009, diakses tanggal 17 Januari 2015 jam 09.05
Ikeu Nurhidayah, Mamat Lukman, Windy
Rakhmawati, 2007, Hubungan Karakteristik Lingkungan Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis (TB) Pada Anak di Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang, Bandung: Universitas Padjajaran, Http://www.scribd.com/doc/52381880/MAKA LAH-TUBERKULOSIS diakses tanggal 29 Januari 2015 jam 15.12
John Crofton, (2002). Tuberkulosis Klinis, Jakarta:
Penerbit Widya Medika Ning Budiarti, (2009).Hubungan kondisi Fisiologis
rumah dengan kejadian Tuberkulosis paru BTA (+) Dipuskesmas bobotsari Kabupaten Purbalingga tahun 2009, Skripsi, Purwokerto: Kementerian Kesehatan RI Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto.
Notoatmodjo.(2003).Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Prinsip-Prinsip Dasar, Yogyakarta: PT Rineka Cipta.
Pemerintah Kabupaten Banyumas, (2014). Profil
Kesehatan Kabupaten Banyumas Tahun 2013, Purwokerto: Dinas Kesehatan.
Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2014. tentang
Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Depkes RI.

Permenkes No. 1077 tahun 2011. tentang Pedoman
Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah. Jakarta: Depkes RI.
Puskesmas II Kembaran. 2014, Laporan kasus
kesakitan tuberkulosis tahun 2013, Banyumas. Rudy Gunawan, 2009, “Rencana Rumah Sehat”,
Yogyakarta: Kansius Siti Fatimah. (2008). ”Faktor Kesehatan Lingkungan
Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di kabupaten Cilacap (Kecamatan: Sidareja, cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari) tahun 2008” (tesis). Semarang: UNDIP, Http://www.eprints.undip.ac.id/24695/1/SITI_ FATIMAH, diakses tanggal 18 Januari 2015 jam 14.20
Sopiyudin, Dahlan (2014). “Statistik untuk
kedokteran dan kesehatan”, Jakarta: Epidemiologi Indonesia
Suyono, (1985).Pokok Bahasan modul perumahan
dan permukiman sehat. Banjarmasin: Proyek pengembangan pendidikan tenaga sanitasi pusat
Tri Cahyono, (2009).“Pedoman Penulisan Proposal
Penelitian dan Karya tulis Ilmiah”, Purwokerto: Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang.
Widoyono, (2008).”Penyakit Tropis Epidemiologi,
penularan, pencegahan Dan Pemberantasannya”. Surabaya: Erlangga

Diterbitkan

2016-03-31

Cara Mengutip

Wahyuni, T., & Gunawan, A. T. (2016). HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015. Buletin Keslingmas, 35(1), 28–31. https://doi.org/10.31983/keslingmas.v35i1.3088