Cookies Based on Sorghum Flour and Moringa Leaf Flour as a High Iron and Protein Source Supplementary Feeding (PMT) for Pregnant Women with Chronic Energy Deficiency (CED) and Anemia
DOI:
https://doi.org/10.31983/jrg.v14i1.14129Keywords:
anemia, chronic energy deficiency, moringa, pregnant women, sorghumAbstract
Background: Pregnant women with chronic energy deficiency (CED) have a 2.76-fold higher risk of developing anemia. Iron requirements can be met through supplementary feeding products formulated from iron-rich ingredients, such as sorghum flour and moringa leaf flour.
Objective: To analyze the moisture content, ash content, macronutrient composition (protein, fat, and carbohydrates), micronutrient content (iron), and organoleptic properties of cookies formulated from sorghum flour and moringa leaf flour.
Methods: This experimental study employed a Completely Randomized Design (CRD) with three formulations based on different ratios of sorghum flour to moringa leaf flour, i.e F1 (85 g : 15 g), F2 (80 g : 20 g), and F3 (75 g : 25 g). Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test and One-Way ANOVA, followed by Duncan’s multiple range test.
Results: The nutritional contents of F1–F3 were as follows: moisture 10.56–12.61%, ash 2.92–3.19%, protein 17.10–18.25%, fat 11.67–12.57%, carbohydrates 41.25–55.72%, and iron 10.49–13.29%. The best formulation, F3, had a brown color, moderately pleasant taste, less aromatic smell, non-crispy mouthfeel, and a fairly strong aftertaste. Each 60 g serving of F3 contained 242.56 kcal energy, 10.93 g protein, 7.24 g fat, 33.43 g carbohydrates, and 7.97 mg iron.
Conclusion: F3 cookies met the standards for supplementary feeding products for pregnant women. However, their energy and fat contents were still below the recommended values and the Indonesian National Standard (SNI) for cookies. Each 60 g serving (4 pieces) contributed 10–15% of the Recommended Dietary Allowance (RDA) for pregnant women in the second trimester aged 19–29 years and could be classified as high in iron (39.09% NRV) and a source of protein (23.96% NRV).
References
1. Irianto K. Gizi Seimbang dalam Kesehatan Reproduksi. Bandung: Alfabeta; 2014.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Dalam Angka. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
3. World Health Organization. Anaemia. 2022. Available from: https://www.who.int/health-topics/anaemia#tab=tab_1.
4. Wijianto B, Suryani E, Rahman M. Hubungan antara Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bontomarannu. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2006;4(2):123–130.
5. Fikawati S, Syafiq A, Karima K. Gizi Ibu dan Bayi. Jakarta: Rajawali Pers; 2015.
6. Rahmawati YD, Wahyani AD. Sifat kimia cookies dengan substitusi tepung sorgum. Jurnal Teknologi Agro-Industri. 2021;8(1):42–54.
7. Melo NV, Vargas T, Quirino CM, Calvo CMC. Moringa oleifera L.: An underutilized tree with macronutrients for human health. 2013.
8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia Tahun 2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2020.
9. Badan Standardisasi Nasional. SNI 2973:2022. Jakarta: BSN; 2022.
10. Sinaga LH. Pengaruh perbandingan tepung komposit (tepung terigu dan tepung mocaf/modified cassava flour) dengan penambahan puree bit merah (Beta vulgaris L). Teknologi Hasil Pertanian. 2019.
11. Badan Ketahanan Pangan. Rata-rata konsumsi per kapita makanan dan minuman jadi 2011–2015. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian; 2015.
12. Nua EN, Adesta RO, Conterius RE. Efektifitas Pemberian Biskuit Kelor (Bi-Kelor) Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Pada Ibu Hamil Dengan Anemia. Journal of Nursing Care. 2021;4(2).
13. Rahmat M, Priawantiputri W, Pusparini. Cookies bayam sorgum sebagai makanan tambahan tinggi zat besi untuk ibu hamil anemia. Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung. 2020;12(2):245.
14. Universitas Kusuma Husada Surakarta. Metode Pembuatan Cookies Berbahan Dasar Tepung Daun Kelor dan Tepung Sorgum sebagai PMT Pada Ibu Hamil KEK dan Anemia. Hak Cipta EC00202385897; 2023.
15. Parwati PI, Ma’rifah B, Muhlishoh A. Formulasi brownies panggang dengan substitusi tepung daun kelor dan tepung kacang hijau sebagai alternatif cemilan sumber zat besi untuk remaja putri anemia. GHIDZA: Jurnal Gizi dan Kesehatan. 2023;7(2):184–204.
16. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2016 tentang Standar Produk Suplementasi Gizi. 2016.
17. Prasetyo HA. Proses pembuatan cake menggunakan tepung komposit terigu, umbi jalar, dan talas dengan metode experimental design. JUITECH: Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Quality. 2019;3(2):44–51.
18. Cahyadi W, Yudi G, Farida N. Perbandingan tepung sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) dengan tepung umbi ganyong (Canna edulis) dan konsentrasi gliserol monosterate terhadap mutu cookies non gluten fortifikasi. Pasundan Food Technology Journal. 2020;7(1):17–25.
19. Winata EW, Yunianta. Ekstraksi antosianin buah murbei (Morus alba L.) metode ultrasonic batch. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 2015;3(2):772–783.
20. Lestari E, Kiptah M, Apifah A. Karakterisasi tepung kacang hijau dan optimasi penambahan tepung kacang hijau sebagai pengganti tepung terigu dalam pembuatan kue bingka. Jurnal Teknologi Agro-Industri. 2017;4(1):20–34.
21. Nurhiadayah B, Soekendars E, Erviani AE. Kandungan kolagen sisik ikan bandeng (Chanos chanos) dan sisik ikan nila (Oreochromis niloticus). BIOMA: Jurnal Biologi Makassar. 2019;4(1):39–47.
22. Irwan Z. Kandungan zat gizi daun kelor berdasarkan metode pengeringan. Jurnal Kesehatan Manarang. 2020;6(1):69–77.
23. Dewi DP. Substitusi tepung daun kelor pada cookies terhadap sifat fisik, organoleptik, kadar proksimat dan Fe. Ilmu Gizi Indonesia. 2018;2:104–112.
24. Wahyani AD, Rahmawati YD. Analisis kandungan serat pangan dan zat besi cookies substitusi tepung sorghum. Jurnal Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama. 2021;8(2):227–237.
25. Ekafitri R, Isworo R. Pemanfaatan kacang-kacangan sebagai bahan baku sumber protein untuk pangan darurat. Jurnal Pangan. 2014;23(2):134–145.
26. Augustyn GH, Tuhumury HCD, Dahoklory M. Pengaruh penambahan tepung daun kelor terhadap karakteristik organoleptik dan kimia biscuit mocaf. AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian. 2017;6(2):52–58.
27. Indriati M, Yuniarsih E. Pengaruh penambahan tepung daun kelor pada ransum terhadap kandungan nutrisi dan fisik telur itik. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan. 2021;9(10):42–48.
28. Lufria PY, Rustanti N. Kadar protein, zat besi dan mutu organoleptik kue kering berbahan dasar tepung terigu, tepung beras, dan substitusi tepung sorgum. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro; 2012.
29. Sari PS. Gambaran tingkat konsumsi sumber energi dan protein pada ibu hamil trimester I. Journal of Midwifery and Reproduction. 2017;1(1):36–40.
30. Suprapto H, Rakhmat F, Asih EK. Sifat fisikokimia pada pengemasan dan penyimpanan cassava flakes fortifikasi. Bogor: Badan Pengkajian Teknologi Pertanian; 2003.
31. Nurcahyani R. Eksperimen Pembuatan Cookies Tepung Kacang Hijau Substitusi Tepung Bonggol Pisang. Skripsi. UNNES; 2016.
32. Tyastuti S, Wahyuningsih HP. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan: Asuhan Kebidanan Kehamilan. 2016.
33. Puspaningrum DHD, Srikulini LAL, Wiradnyani NK. Penambahan tepung daun kelor dan tepung kacang kedelai terhadap nilai gizi snack bar. Pro-Food. 2019;5:544–548.
34. Syifahaque AN, Siswanti S, Atmaka W. The effect of sorghum flour substitution on chemical, physical, and organoleptic characteristics of cookies. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. 2022;15(2):119–133.
35. Adawiyah DR, Kusnandar F, Fitria M. Pendugaan umur simpan biskuit dengan metode akselerasi. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. 2010;21(2):117–119.
36. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC; 2012.
37. Harvey LJ, Dainty JR, Hollands WJ. Effect of high-dose iron supplements on fractional zinc absorption in pregnant women. American Journal of Clinical Nutrition. 2007;85(1):131–136.
38. Kinasih. Khasiat dan Manfaat Daun Kelor. Yogyakarta: Pustaka Baru Press; 2008.
39. Suarni. Evaluasi sifat fisik dan kandungan biji sorgum setelah penyosohan. Jurnal Stigma. 2004;12(1):88–91.
40. Fellows PJ. Food Processing Technology: Principles and Practice. Cambridge: Woodhead Publishing; 2000.
41. Garber LL, Hyatt EM, Starr RG. The effect of food color on perceived flavor. Journal of Marketing Theory and Practice. 2000;8(4):59–72.
42. Sari YK, Adi AC. Daya terima, kadar protein dan zat besi cookies substitusi tepung daun kelor dan tepung kecambah kedelai. Media Gizi Indonesia. 2018;12:27.
43. Hasan NW, Putri TP, Zainal. Preparation of cookies from banana flour, soy flour and moringa leaf flour. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 2020;486.
44. Rosyidah AZ. Studi tingkat kesukaan responden terhadap penganekaragaman lauk pauk dari daun kelor. E-Journal Boga. 2016;5(1):17–22.
45. Sirappa MP. Prospek pengembangan sorgum sebagai komoditas alternatif. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2003;22(4):133–140.
46. Winarno FG. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2008.
47. Rohmawati N, Anggraini M, Antika RB. Analisis protein, kalsium, dan daya terima biskuit ubi jalar ungu dengan penambahan daun kelor. Jurnal Nutrisi. 2020;21:91–97.
48. Setyaningsih A. Study on substitution of Moringa oleifera flour and breadfruit flour in supplementary food for pregnant women. Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi. 2021;20:102–110.
49. Ilona AD, Ismawati R. Pengaruh penambahan ekstrak daun kelor dan waktu inkubasi terhadap sifat organoleptik yoghurt. E-Journal Boga. 2015;4(3):151–159.
50. Cahyadi W, Yudi G, Farida N. Perbandingan tepung sorgum dengan tepung ganyong dan gliserol monosterat terhadap mutu cookies non gluten fortifikasi. Pasundan Food Technology Journal. 2020;7(1):17–25.
51. Tarmizi MR. Pengaruh perbandingan konsentrasi tepung sorgum termodifikasi dengan tepung terigu dan suhu pemanggangan terhadap sifat fisiko kimia flakes ikan patin. Jurnal Teknologi Pangan UNPAS. 2015.
52. Setiyowati WT. Formulasi biscuit tinggi serat. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 2014;2(3):224–231.
53. Rustamaji GAS, Ismawati R. Daya terima dan kandungan gizi biscuit daun kelor sebagai alternatif makanan selingan bayi stunting. Jurnal Gizi UNESA. 2021;1:31–37.
54. Dewi S, Trisnawati CY, Sutedja AM. Pengaruh substitusi tepung terigu dengan tepung kacang merah pregelatinasi terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik cookies. Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi. 2017;14(2):67–71.
55. Putri SR. Pengaruh penambahan tepung biji jelai difermentasi terhadap karakteristik kimia dan sensori kukis brownies. Skripsi. UNIKA Soegijapranata; 2018.
56. Dewi FK. Pembuatan cookies dengan penambahan tepung daun kelor pada berbagai suhu pemanggangan. Skripsi. UNPAS; 2014.
57. Yulianti R. Pembuatan minuman jeli daun kelor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor; 2008.
58. Sirappa MP. Prospek pengembangan sorgum di Indonesia sebagai komoditas alternatif untuk pangan, pakan, dan industri. Jurnal Litbang Pertanian. 2003;22(4):19–25.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Bahriyatul Ma'rifah, Arbian Revaldo Tauresta, Dewi Kusumawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
This is an Open Access article distributed under the terms of the CC BY-SA 4.0 License







