Vol 2 No 2 (2020): November 2020
Artikel Hasil Penelitian

Hubungan Kadar Hemoglobin dan Kadar Kreatinin Darah pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Pasca Transfusi Berulang

Eko Naning Sofyanita
Poltekkes Kemenkes Semarang

Diterbitkan 2021-09-27

Kata Kunci

  • Gagal ginjal kronik,
  • Hemoglobin,
  • Kreatinin

Cara Mengutip

Sofyanita, E. N., Afriansya, R., & Palupi, N. I. (2021). Hubungan Kadar Hemoglobin dan Kadar Kreatinin Darah pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Pasca Transfusi Berulang. Jaringan Laboratorium Medis, 2(2), 51–55. https://doi.org/10.31983/jlm.v2i2.7030

Abstrak

Ginjal merupakan bagian dari tubuh yang memiliki peran penting. Fungsi ginjal salah satunya tempat produksi erythropoietin. Erytropoietin berfungsi memicu produksi sel darah merah. Orang atau pasien yang memiliki gangguan pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar hemoglobin dengan kadar kreatinin darah pada pasien dengan penyakit ginjal kronik pasca mendapatkan transfusi. Kadar kreatinin darah dalam penelitian ini digunakan sebagai indeks pengukuran fungsi ginjal. Penelitian dilakukan di rumah sakit Wira Tamtama Semarang dengan mengambil data 20 pasien pada tahun 2020 dengan penyakit ginjal kronik dan diambil data hemoglobin (cut-off 12 gr/dL) dan kreatinin serum (cut-off 1,5 mg/dL). Hubungan antara keduanya dihitung dengan uji chi-square dan didapatkan 80% pasien dengan hemoglobin rendah pada pasien dengan kadar kreatinin tinggi dan 0% pasien dengan hemoglobin rendah pada pasien dengan kadar kreatinin normal (p=0,040). Terdapat risiko penurunan kadar hemoglobin (OR = 3,442) pada pasien dengan kadar kreatinin yang tinggi. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar hemoglobin dengan kadar kreatinin darah dan pasien dengan kadar kreatinin tinggi cenderung berisiko anemia.

Referensi

  1. Aminah, S. (2015). HIV Reaktif pada Calon Donor Darah di Unit Donor Darah (UDD) Pembina Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Lampung dan Unit Transfusi Darah PMI RSUD Pringsewu tahun 2010 – 2014. Lampung. Jurnal Analis Kesehatan, 4(2), 427–435.
  2. Alfonso, A. A., Mongan, A. E., dan Memah, M. F. (2016). Gambaran kadar kreatinin serum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis. eBiomedik, 4(1).
  3. Baradero, Mary. (2008). Asuhan Keperawatan ‘Klien Gangguan Ginjal’. ECG. Jakarta
  4. KDOQI National Kidney Foundation. (2006). KDOQI Clinical Practice Guidelines and Clinical Practice Recommendations for Anemia in Chronic Kidney Disease. Am J Kidney Dis 47 [Suppl 3]: S11– S145
  5. Khoolidah, N. M., & Qomariyah, N. (2019). Stages and Levels of Plasmodium Falciparum Parasitemia in Malaria Blood Preparations. Jaringan Laboratorium Medis, 1(1), 27-33.
  6. Kovesdy CP, Trivedi BK, Kalantar-Zadeh K, Anderson JE. (2006). Association of anemia with outcomes in men with moderate and severe chronic kidney disease. Kidney Int. Feb;69(3):560-4.
  7. Nurko S. (2006). Anemia in chronic kidney disease: Causes, diagnosis, treatment. Cleveland Clinic Journal Of Medicine. 73(3):289-97.
  8. PERNEFRI. (2012). 5th Annual Report of Indonesia Renal Registry. http://www.pernefriinasn.org/laporan/5th%20annual%20report%20%20IRR%202 12
  9. Smeltzer, Bare. (2006). Medical Surgical Nursing Brunner and Suddarth Vol. 2. EGC. Jakarta.
  10. Tanaka A, Suemaru A, Araki H. (2007). A New Approach for Evaluating Renal Function and Its Practical Application. J Pharmacol Sci 105, 1 – 5
  11. Wein AJ, et al. (2012). Campbell-Walsh Urology [ebook], 10th ed. Philadelphia: Elseviers Saunders.p.52,1026,1029-30.
  12. World Health Organization. (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anemia and assessment of severity. Geneva: Vitamin and Mineral NutritionInformation System.