EVALUASI KUALITAS KODE DIAGNOSIS KETUBAN PECAH DINI PADA PASIEN RAWAT INAP

Warsi Maryati, Indriyati Oktaviano Rahayuningrum, Yohana Sulistyo Wati

Abstract


Ketuban pecah dini berada pada urutan ke 2 dalam 10 besar penyakit pasien rawat inap di salah satu rumah sakit swasta yang terdapat di Kabupaten Boyolali. Kualitas kode diagnosis ketuban pecah dini dapat menyebabkan hasil klaim pembiayaan pelayanan kesehatan pada sistem case mix dan penetapan kebijakan dalam pelayanan kesehatan tidak tepat. Penelitian ini mengevaluasi kualitas kode diagnosis ketuban pecah dini yang meliputi keakuratan, kelengkapan, konsistensi dan ketepatan waktu. Penelitian bersifat deskriptif dengan mengobservasi 215 dokumen rekam medis dan mewawancarai petugas coding. Hasil evaluasi menunjukkan kode diagnosis yang akurat sebanyak 58,60%,  kode diagnosis yang lengkap sebanyak 75,81%, kode diagnosis yang konsisten 59,53% dan rata-rata waktu untuk mengkode satu dokumen rekam medis antara 5-7 menit. Penyebab utama kode diagnosis tidak akurat, tidak lengkap dan tidak konsisten karena diagnosis tidak dikode dan kesalahan penentuan kode diagnosis pada karakter ke empat. Peningkatan kualitas kode sebaiknya dilakukan sehingga dalam pengambilan kebijakan dan penentuan biaya klaim asuransi lebih tepat.

Keywords


evaluasi, kode, ketuban, pecah, dini

Full Text:

PDF

References


Alik, A.T.N.I. (2016). Hubungan Ketepatan Kode Diagnosa Obstetric Terhadap Kelancaran Klaim BPJS Di RSUD Sawerigading Kota Palopo Sulawesi Selatan. Jurnal INOHIM. 4 (1) : 1-10.

Cheng, P., Gilchrist, A., Robinson, K.M., Paul, L. (2009). The Risk and Consequences of Clinical Miscoding due to Inadequate Medical Documentation : A Case Study of the Impact on Health Services Funding. Health Information Management Journal, 38 (1): 35-46.

Cummings, E., Maher, R., Showell, C.M., Croft, T.; Tolman, J., Vickers, J., Stirling, C., Robinson, A., Turner, P. (2011). Hospital coding of Dementia: is it accurate?. Health Information Management Journal, 40 (3): 5-11.

Dalal, S., Roy, B. (2009). Reliability of Clinical Coding of Hip Fracture Surgery: Implications for Payment by Results?. Inernational Journal Care Injured, 40 (1):738-741.

Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik.

Farzandipour, M., Sheikhtaheri, A., Sadoughi, F. (2010). Effecctive Factors on Accuracy of Principal Diagnosis Coding Based on International Classification of Disease, the 10th Revision (ICD-10). International Journal of Information Management. 30 (5) : 78-84

Hatta, G. (2014). Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan. Edisi Revisi.Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press).

Ifalahma, D. (2013). Hubungan Pengetahuan Coder dengan Keakuratan Kode Diagnosis Pasien Rawat Inap Jaminan Kesehatan Masyarakat Berdasarkan ICD-10 di RSUD Simo Boyolali, Jurnal Informasi Kesehatan, 3 (2): 14-26.

Maryati, W. (2016). Hubungan Antara Ketepatan Penulisan Diagnosis Dengan Keakuratan Kode Diagnosis Kasus Obstetri di PKU Muhammadiyah Sukoharjo. Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, 6 (2) : 1-7.

Maryati, W., Murti, B., Indarto, D. (2016). Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Kode Diagnosis Pasien Rawat Inap di RSUD Dr. Moewardi.Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. 1 (2) : 61-70.

Menteri Kesehatan RI. (2008). Peraturan Menteri Kesehatan No. 269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis. Jakarta.

Ningtyas, N.K, Sugiarsi, S, Wariyanti, A.S. (2019). Analisis Ketepatan Kode Diagnosis Utama Kasus Persalinan Sebelum dan Sesudah Verifikasi pada Pasien BPJS di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Jurnal Kesehatan Vokasional, 4(1): 1-11.

Octaria, H. (2016). Peningkatan Kualitas Pengkodean Pada Ketepatan dan Kecepatan Pengkodean Penyakit Untuk Penagihan Klaim BPJS di RSUD Petala Bumi Pekanbaru. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia. 4 (1) : 12-20.

Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Jakarta.

Rohmawati, N., Fibriana, I.A. (2018). Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Daerah Ungaran. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2 (1) : 23-32.

Thigpen, J.L., Pharm, Dillon, C., Forster, K.B., Henault, L., Quinn, E.K., Tripodis, Y., Berger, P.B., Hylek, E.M., Limdi, N.A. (2015). Validity of International Classification of Disease Codes to Identify Ischemic Stroke and Intracranial Hemorrhage among Individuals with Associated Diagnosis of Atrial Fibrillation. Circulatory Cardiovascular Quaility Outcomes, 8 (1): 8–14.

Wariyanti, S, A., Sugiarsi, S., Ningtyas, K, N. (2019). Analisis Ketepatan Kode Diagnosis Utama Kasus Persalinan Sebelum dan Sesudah Verifikasi pada Pasien BPJS di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Jurnal Kesehatan Vokasional. 4 (1) : 1-11.

WHO. (2010). International Statistical Classification of Disease and Related Health Problem Tenth Revision Volume 1,2,3. Geneva.

WHO. (2014). Improving Data Quality : A Guide For Developing Countries. WHO Westren Pasific Regional.




DOI: https://doi.org/10.31983/link.v16i1.5726

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


LINK (ISSN: 1829-5754 e-ISSN: 2461-1077), dipublikasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang, Jl. Tirto Agung, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah 50268, Indonesia; Telp./Fax: (024)7460274

Public Services : 

 E-mail: link@poltekkes-smg.ac.id

View statistics

Creative Commons License LINK is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License