HUBUNGAN INTENSITAS SUARA DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN PEKERJA UNIT KILN PT. HOLCIM INDONESIA TBK. CILACAP PLANT TAHUN 2016

Authors

  • Afifah Nurul Azmi Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
  • Yulianto Yulianto Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

DOI:

https://doi.org/10.31983/keslingmas.v36i1.3006

Keywords:

Intensitas suara, gangguan pendengaran

Abstract

Pengukuran intensitas suara yang dilakukan oleh departemen Occupational Health and Safety PT. Holcim
Indonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2015 diketahui nilai intensitas suara di Unit Kiln melebihi NAB yaitu
berkisar:88,9 dB - 111,2 dB. Intensitas suara di tempat kerja sebesar 85 dB selama 8 jam dapat beresiko
memberikan efek gangguan pendengaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan intensitas suara
dengan gangguan pendengaran pekerja Unit Kiln PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant. Jenis penelitian yang
digunakan adalah observasional dengan metode cross sectional. Variabel yang dianalisis adalah variabel bebas
(intensitas suara), variabel terikat (gangguan pendengaran), variabel pengganggu (umur, masa kerja, penggunaan
alat pelindung telinga, lama paparan, suhu, kelembaban). Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja
patrol pada Unit Kiln PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2016 sebanyak 16 orang. Hasil analisis uji
statistik menggunakan uji Pearson Product Moment menunjukkan tidak ada hubungan antara intensitas suara
dengan gangguan pendengaran telinga kiri, telinga kanan dan kedua telinga pada pekerja Unit Kiln PT. Holcim
Indonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2016. Diperoleh nilai hitung rxy = 0,073; 0,161 dan 0,019 menunjukkan
hubungan yang sangat rendah. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan tidak ada hubungan intensitas suara dengan
gangguan pendengaran pekerja Unit Kiln PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2016. Saran bagi OHS
department melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang alasan pekerja tidak menggunakan APT dan dilakukan
pemantauan secara rutin penggunaan APT pada pekerja saat bekerja. Bagi pekerja agar bekerja sesuai dengan
SOP yang sudah ada dan menggunakan APT saat bekerja serta saling mengingatkan dalam penggunaan APT.

References

A. Siswanto, 1990, Kebisingan, Jawa Timur: Balai
Hiperkes dan KK.
Aditama T.Y., Tri Hastuti, 2006, Kesehatan dan
Keselamatan Kerja, Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Anies, 2005, Seri Kesehatan Umum PAK, Jakarta:
Elex Media Komputindo.
Arini.Y.A. 2005, Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Gangguan Pendengaran Tipe
Sensorineural Tenaga Kerja Unit Produksi
Di PT. Kurnia Jati Utama. Semarang:
UNNES.
Aris Santjaka, 2011, Statistik untuk Penelitian
Kesehatan 1, Yogjakarta: Nuha Medika.
Bangun Adhi, 2015,Deskripsi Intensitas Suara Pada
Unit Raw Mill PT. Holcim Indonesia Tbk.
Cialacap Plant Tahun 2015, Purwokerto:
Poltekkes Semarang.
Budiman Chandra, 2007, Pengantar Kesehatan
Lingkungan, Jakarta: Penerbit Kedokteran
EGC.
Bashirudin J. dan Soetirto I., 2007, Gangguan
Pendengaran Akibat Bising dalam buku
Ajaran Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher, Edisi ke-6,
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
CCOHS, 2008, Noise Auditory Effect, Di unduh
ccohs.ca/oshanswers/phys_auditory.html.Di
akses pada tanggal 25 Januari 2016, pukul
12.08 WIB
Diana Barsasella, 2010, Fisika untuk Mahasiswa
Kesehatan, Jakarta: Trans Info Media.
Evie Dyah Ayu Rahmawati, 2015, Dampak Intensitas
Kebisingan Terhadap Gangguan
Pendengaran (Auditory Effect) Pada
Pekerja Di Pabrik I PT. Petrokimia Gresik
Tahun 2015, Jember: Universitas Jember.
96
Gabriel, JF., 1996, Fisika Kedokteran, Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Harrington,J.M, dan F.S. Gill., 2003, Buku Saku
Kesehatan Kerja, Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Khabori, M.A., dan Khandekar, R., 2004, The
Prevalence and Causes of Hearing Impa
irment in Oman. Dalam: International
Journal of Audiology, 43:486-492
Kusumawati, 2012, Hubungan Tingkat Kebisingan di
Lingkungan Kerja dengan Kejadian
Gangguan Pendengaran pada Pekerja di Pt
X. Skripsi. Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Malerbi, B., 1989, Chapter 12 : Audiometri, dalam
H.A. Waldron (editor), Occupational Health
Practice 3rd Edition. London: Buttenworths.
Meike Wahyu Wijayanti, 2014, Hubungan Intensitas
Kebisingan Dengan Penurunan Ambang
Dengar Pada Tenaga Kerja Di PT. Putri
Indah Pertiwi Wonogiri Tahun 2014,
Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan UMS.
Nasri Syahrul M., Teknik Pengukuran dan
Pemantauan Kebisingan di Tempat Kerja,
K3 FKM UI: 1997
Poltekkes Kemenkes Semarang, 2016, Pedoman
Praktikum K3, Purwokerto: Poltekkes
Semarang.
Republik Indonesia, Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, 2011, Permenakertrans no.
13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang
Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja, Jakarta: Kemenakertrans RI.
______ , Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, 2010, Permenakertrans no.
08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung
Diri, Jakarta: Kemenakertrans RI.
______ , Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, 2008, Permenakertrans no.
25/MEN/XII/2008 tentang Pedoman
Diagnosis dan Penilaian Cacat Karena
Kecelakaan dan Penykit Akibat Kerja,
Jakarta: Kemenakertrans RI.
______ , Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup, 1996, Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996
Tentang Baku Tingkat Kebisingan, Jakarta:
Kepmenlh RI.
______ , SK Dirjen PPM dan Penehatan Lingkungan
Pemukiman, 1995,SK Dirjen PPM dan
Penehatan Lingkungan Pemukiman Depkes
RI No. 70-1/PD.03.04.LP tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pengawasan Kebisingan Yang
behubungan Dengan Kesehatan, Jakarta:
Dirjen PPM dan PLP RI.
______ , 2009, Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan,
Jakarta: UU RI.Roeva, O. (2012).
Roestam Ambar W., 2004, Program Konservasi
Pendengaran di Tempat Kerja. Diunduh dari
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/144_12
Program Pendengaran di Tempat
Kerja.pdf/144_12/Program Konservasi
Pendengaran di Tempat Kerja.html Diakses
pada tanggal 21 Januari 2016, pukul 12.21
WIB.
Sasongko, D.P., Hadiyarto A., 2000, Kebisingan
Lingkungan, Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Soeripto, 2008, Higiene Industri, Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran UI.
Sri Harmadji, 2004, Noise Induced Hearing Lost in
Steel Factor Worker, Surabaya: Badan
Penerbit Universitas Airlangga.
Suma’mur PK., 2009, Higiene Perusahaan dan
Kesehatan Kerja, Jakarta: CV. Sagung Seto.
Tambunan, S.T.B., 2005, Kebisingan Di Tempat
Kerja, Yogyakarta: ANDI
Tri Widi A, 2013, Hubungan Antara Intensitas
Suara, Masa Kerja Dan Usia Pekerja
Dengan Keluhan Subjektif Pendengaran
Pekerja Di Unit Kiln PT. Holcim TBK.
Cilacap Plant Tahun 2013, Purwokerto:
Poltekkes Semarang.

Downloads

Published

2017-03-31

How to Cite

Azmi, A. N., & Yulianto, Y. (2017). HUBUNGAN INTENSITAS SUARA DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN PEKERJA UNIT KILN PT. HOLCIM INDONESIA TBK. CILACAP PLANT TAHUN 2016. Buletin Keslingmas, 36(1), 83–97. https://doi.org/10.31983/keslingmas.v36i1.3006