Vol 2 No 1 (2020): Mei 2020
Artikel Hasil Penelitian

Gambaran Pemeriksaan Kadar SGOT dan SGPT pada Penderita Tuberkulosis Paru

Siti Chairini
BBKPM/RS Paru Jajar Surakarta
Widodo Widodo
Poltekkes Kemenkes Semarang

Diterbitkan 2020-05-01

Kata Kunci

  • SGOT,
  • SGPT,
  • TB paru

Cara Mengutip

Chairini, S., & Widodo, W. (2020). Gambaran Pemeriksaan Kadar SGOT dan SGPT pada Penderita Tuberkulosis Paru. Jaringan Laboratorium Medis, 2(1), 18–21. https://doi.org/10.31983/jlm.v2i1.6266

Abstrak

Gangguan fungsi hati ditandai dengan meningkatnya kadar SGOT dan SGPT. Mekanisme kerusakan hati oleh OAT (Obat Anti Tuberkulosis) pada beberapa penelitian menyebutkan terjadinya hepatotoksisitas disebabkan efek langsung atau melalui produksi kompleks enzim obat yang berakibat disfungsi sel serta disfungsi membran. Hepatotoksisitas akibat OAT dapat menyebabkan cedera hati. Tujuan penelitian ntuk mengetahui gambaran pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT pada penderita tuberkulosis paru. Jenis penelitian deskriptif menggunakan catatan data rekam medik dan data laboratorium RSUP penderita TB paru pada bulan Januari-Maret 2020. Hasil penelitian diperoleh kadar SGOT normal pada laki-laki 6-33 U/L sebanyak 63,33%, dan SGOT > normal 50-66 U/L sebanyak 2,35%. Kadar SGOT normal pada perempuan 10-25 U/L sebanyak 25,88%, dan SGOT > normal perempuan 15-63 U/L sebanyak 8,24%. Kadar SGPT normal pada laki-laki 3-43 U/L sebanyak 62,35%, dan SGPT > normal 55-65 U/L sebanyak 3,53%. Kadar SGPT normal pada perempuan 7-29 U/L sebanyak 34,12%. Hepatotoksisitas berdasar kadar SGOT sebanyak 9 orang (10,59%) yaitu 2 laki-laki (lansia dan manula) dan 7 perempuan (remaja, dewasa, dan lansia). Hepatotoksisitas berdasarkan kadar SGPT sebanyak 3 orang (3,53%) pada laki-laki lansia dan manula.

Referensi

  1. Aminah.S. (2013). Perbedaan Kadar SGOT, SGPT, Ureum dan kreatinin Pada Penderita TB Paru Setelah Enam Bulan Pengobatan. Jurnal Analis Kesehatan. 2(2):260-269.
  2. Annisa, R., Zarfiardy, A.F, Firdayenti. (2015). Perbandingan Kadar SGPT Pada Pasien Tuberkulosis Paru Sebelum dan Sesudah Intensif di Poliklinik Paru RSUD Arifin Achmad Pekanbaruâ€. JOM FK, (Online), Vol.2 (2)
  3. Crofton, John, and D. A. Mitchison. (1948). Streptomycin resistence in pulmonary tuberculosis. British Medical Journal 2.4588 : 1009. doi: 10.1136/bmj.2.4588.1009
  4. Indranila KS. (2018). Buku Ajar Tes Fungsi Hati. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang
  5. Kementerian Kesehatan. (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Dirjen Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta.
  6. Karlina, E., Widodo, W., & Purlinda, D. E. (2019). Biochemistry Mycobacterium Tuberculosis Treated with Anti-Isoniazid Treatment. Jaringan Laboratorium Medis, 1(2), 81-85.
  7. Kochi, A., Vareldzis, B., and Styblo, K. (1993). Multidrug-resisten tuberculosis and its control. Research in microbiology, 144(2): 104-110. https://doi.org/10.1016/0923-2508(93)90023-U
  8. Larrouy-Maumus, G., Marino, L. B., Madduri, A. V., Ragan, T. J., Hunt, D. M., Bassano, L., Gutierrez, M.G., Moody, D.B., Pavan, F. R., and de Carvalho, L. P. S. (2016). Cell-Envelope Remodeling as a Determinant of Phenotypic Antibacterial Tolerance in Mycobacterium tuberculosis. ACS Infectious Diseases 2(5): 352-360. doi.org/10.1021/acsinfecdis.5b00148
  9. Nelwan A R. Palar S. Lombo J C. (2014). Kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase dan Serum Glutamic Pyruric Transaminase Pada Pasien Tuberkulosis Paru Selama Dua Bulan Berjalannya Pemberian Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Tetap. Jurnal e-Clinic (eCl). Vol 2(3).
  10. Sumiati, D., & Budiharjo, T. (2019). BTA Suspect Findings Before and After Knocking on the Doors Program by Cadre Based on Quality of Sputum Samples. Jaringan Laboratorium Medis, 1(1), 34-37.