Vol 2 No 1 (2020): Mei 2020
Artikel Hasil Penelitian

Gambaran Ureum dan Kreatinin pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis

Roni Roni Afriansya
Poltekkes Kemenkes Semarang

Diterbitkan 2020-06-23

Kata Kunci

  • Penyakit Ginjal Kronik,
  • Hemodialisis,
  • Kadar Ureum dan Kreatinin

Cara Mengutip

Afriansya, R. R., Sofyanita, E. N., & Suwarsi, S. (2020). Gambaran Ureum dan Kreatinin pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis. Jaringan Laboratorium Medis, 2(1), 6–11. https://doi.org/10.31983/jlm.v2i1.5813

Abstrak

Penyakit Ginjal Kronik terlihat nyata jika kadar ureum darah lebih dari 200 mg/dl. Uremia menyebabkan gangguan fungsi hampir semua sistem organ seperti; gangguan cairan dan elektrolit, metabolikendokrin, neuromuskular, kardiovaskular dan paru, kulit, gastrointestinal, hematologi serta imunologi. Hemodialisis merupakan suatu usaha untuk mengurangi gejala uremia tersebut, sehingga keadaan klinis pasien juga dapat membaik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Ureum dan Kreatinin pada Pasien penyakit ginjal kronik yang melakukan Hemodialisis. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional. Sampel mencakup semua pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis yang memenuhi kriteria inklusi, sehingga didapatkan sebanyak 83 sampel. Jenis data adalah data sekunder yang diperoleh dari rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan kebanyakan pasien adalah kelompok usia 40-60 tahun sebanyak 72% dan sebagian besar jenis kelamin pria sebanyak 51 pasien (61%). Gambaran ureum dan kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialsis mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pada 83 pasien penyakit ginjal kronik mengalami peningkatan kadar kreatinin serum (>100%) dengan rerata kadar kreatinin pada laki-laki sebesar 11,80 mg/dL dan perempuan sebesar 9,73 mg/dL serta peningkatan kadar ureum dengan rerata pada laki-laki sebesar 167,09 mg/dL dan perempuan sebesar 164,39 mg/dL. Simpulan penelitian ini adalah semua pasien dengan penyakit ginjal kronik mengalami peningkatan kadar ureum dan kreatinin lebih dari 100%.

Referensi

  1. Alfonso, A. A., Mongan, A. E., dan Memah, M. F. (2016). Gambaran kadar kreatinin serum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis. eBiomedik, 4(1).
  2. Banerjee A. (2005). Renal physiology. In : Clinical physiology an examination primer. USA : Cambridge University Press;.p.61.
  3. Guyton AC, Hall JE. Pembentukan urin oleh ginjal: 1. Filtrasi glomerulus, aliran darah ginjal, dan pengaturannya. Dalam: Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC; 1997.p.397-8.
  4. Martini, M. (2010). Hubungan Tingkat Asupan Protein Dengan Kadar Ureum Dan Kreatinin Darah Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Di Rsud Dr. Moewardi Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
  5. National Kidney Foundation - Kidney Disease Improving Global Outcomes (NKF-KDIGO). KDIGO. (2012). clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease. ISN. 2013;3(1):1-163.
  6. National Institute for Helath Research. (2014). Point-of-care creatinine testing for the detection and monitoing of chronic kidney disease. Oxford Journal.1-3.
  7. Hill, N. R., Fatoba, S. T., Oke, J. L., Hirst, J. A., O’Callaghan, C. A., Lasserson, D. S., and Hobbs, F. R. (2016). Global prevalence of chronic kidney disease–a systematic review and meta-analysis. PloS one, 11(7).
  8. Pura, L., Supriyadi, R., Nugraha, G. I., Bandiara, R., dan Soelaeman, R. (2009). Hubungan laju filtrasi glomerulus dengan status nutrisi pada penderita penyakit ginjal kronik predialisis. Majalah Kedokteran Bandung, 41(1).
  9. Suwitra, K. (2014). Penyakit Gagal Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-5. Jakarta: Internal publishing.
  10. Sukandar, E. (2006). Nefrologi klinik. Edisi ketiga. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII) Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD.
  11. Skorecki, K., and Bargman, J. M. (2012). Chronic Kidney Disease. Harrison's Principals of Internal Medicine. Newyork: McGraw-Hill Inc, 18(2), 2308.
  12. Tjekyan R. (2014). Prevalensi dan Faktor Risiko penyakit ginjal kronik di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2012. Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 277.
  13. Wahyuni, P., Miro, S., dan Kurniawan, E. (2018). Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik dengan Diabetes Melitus di RSUP Dr. M Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(4), 480-485.
  14. Wilson, LM. (2005). Penyakit ginjal kronik stadium akhir: sindrom uremik. In: Pendit BU, Hartanto H, Wulansari P, Mahanani DA, Susi N (editor Bahasa Indonesia). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit Vol-2 (6th ed). Jakarta: EGC, 45.p. 951-62.
  15. De Nicola, L., et al. (2012). The effect of increasing age on the prognosis of non-dialysis patients with chronic kidney disease receiving stable nephrology care. Kidney international, 82(4), 482-488.