Vol 6 No 2 (2024): November 2024
Artikel Hasil Penelitian

Faktor Risiko Terjadinya Anemia pada Pasien Tuberculosis Paru dalam Fase Pengobatan

Umi Rosidah
Poltekkes Kemenkes Semarang
Qurrotu Ayuni Auliya
Poltekkes Kemenkes Semarang
Ririh Jatmi Wikandari
Poltekkes Kemenkes Semarang
Santo Yoseph Didik Widiyanto
Poltekkes Kemenkes Semarang

Diterbitkan 2024-11-01

Kata Kunci

  • Tuberculosis Paru,
  • Anemia,
  • Pengobatan TBC

Cara Mengutip

Rosidah, U., Auliya, Q. A., Wikandari, R. J., & Widiyanto, S. Y. D. (2024). Faktor Risiko Terjadinya Anemia pada Pasien Tuberculosis Paru dalam Fase Pengobatan. Jaringan Laboratorium Medis, 6(2), 156–164. https://doi.org/10.31983/jlm.v6i2.12268

Abstrak

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TBC masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat Indonesia yang berujung pada kesakitan, kecatatan, dan kematian tinggi sehingga perlu adanya penanggulangan. Tujuan penelitian mengetahui faktor risiko terjadinya anemia pada pasien tubercukosis paru dalam fase pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif analitik casecontrol Penelitian dilakukan di Puskesmas Bangetayu Kecamatan Genuk Kota Semarang. Populasi semua pasien TB yang sedang menjalani pengobatan di Puskesmas Bangetayu. Sampel penelitian ini dari total keseluruhan populasi yaitu 34 pasien case dan kontrol. Hasil dari 34 responden case control terdapat kadar hemoglobin pada pasien Tuberkulosis paru dengan anemia (case) sebanyak 17 responden yang mengalami penurunan kadar hemoglobin yaitu laki-laki dengan rata-rata kadar Hemoglobin 12,2 gr/dL (7 responden), Perempuan dengan kadar Hemoglobin rata-rata 10,6 gr/dL (2 responden). Sebanyak 17 responden control yang tidak anemia yaitu mayoritas normal dengan jenis kelamin  perempuan dengan rata-rata kadar Hemoglobin 12,61 gr/dL (17 responden). Berdasarkan karakteristik yang jenis kelamin laki-laki 29,41% dan jenis kelamin perempuan 11,76%. Penurunan kadar hemoglobin yaitu laki-laki dengan rata-rata kadar hemoglobin 12,2 gr/dL (5 responden), perempuan dengan kadar hemoglobin rata-rata10,6 gr/dL (2 responden). Berdasarkan karakteristik yang berjenis kelamin perempuan 70,59% (24 responden) dan laki-laki 29,41% (10 responden). Berdasarkan karakteristik usia kategori dewasa 64,71% (22 responden), lansia 23,53% (8 responden), bayi dan anak 11,76% (4 responden), dan remaja 0,00% (0 responden). Hasil uji bivariate kadar hemoglobin, usia, dan jenis kelamin terdapat hubungan antara kadar hemoglobin, usia, dan jenis kelamin terhadap pasien Tuberculosis paru dalam fase pengobatan. Faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap terjadinya anemia pada pasien Tuberculosis paru dalam fase pengobatan yaitu pada variabel jenis kelamin yaitu memiliki resiko sebesar 3.429. Selanjutnya diikuti oleh variael kadar hemoglobin yang memiliki risiko sebesar 0.370. Usia tidak terdapat faktor risiko terjadinya anemia pada pasien Tuberculosis paru dalam fase pengobatan. Kesimpulan penelitian ini kadar hemoglobin dan jenis kelamin terdapat faktor risiko terjadinya anemia pada pasien Tuberculosis paru dalam fase pengobatan. Anemia mampu mempengaruhi pada petunjuk diagnosis, prognosis, komplikasi, dan respon terhadap terapi tuberkulosis, sehingga pasien tuberculosis dapat menjaga asupan gizi dan kepatuhan terapi untuk menekan perkembangan penyakit.

Referensi

  1. Agyeman, A.A. and Ofori-Asenso, R. (2017). ‘Tuberculosis—an overview’, Journal of Public Health and Emergency, 1(January), pp. 7–7. Available at: https://doi.org/10.21037/jphe.2016.12.08.
  2. Auliya, Q.A., Maulana, M.R. and Priyatno, D. (2023). ‘Hubungan Antara Kadar Asam Urat dengan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberculosis Paru Relationship Between Uric Acid Levels and Compliance with Drinking in Pulmonary Tuberculosis Patients Mochamad Rizal Maulana Djoko Priyatno Jurusan Analis Kesehatan’, Jurnal Laboratorium Medis, 05(02), pp. 76–83.
  3. Dasaradhan, T. et al. (2022). ‘Tuberculosis-Associated Anemia: A Narrative Review’, Cureus, 14(8). Available at: https://doi.org/10.7759/cureus.27746.
  4. Dewi, N.K.A., Sukarsa, I.K.G. And Srinadi, I.G.A.M. (2020). ‘Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Penyebaran Penyakit Tuberkulosis (Tbc) Di Provinsi Jawa Barat’, E-Jurnal Matematika, 9(3), p. 165. Available at: https://doi.org/10.24843/mtk.2020.v09.i03.p294.
  5. Fortuna, T.A. et al. (2022). ‘Studi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Tahap Lanjutan pada Pasien Baru BTA Positif’, Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia, 19(1), pp. 62–71. Available at: https://doi.org/10.23917/pharmacon.v19i1.17907.
  6. Gelaw, Y., Getaneh, Z. and Melku, M. (2021). ‘Anemia as a risk factor for tuberculosis: a systematic review and meta-analysis’, Environmental Health and Preventive Medicine, 26(1). Available at: https://doi.org/10.1186/s12199-020-00931-z.
  7. Kadarwati, A., Sukeksi, A. and Putri, G.S.A. (2023). ‘Hubungan Jumlah Monosit Dan Nilai Laju Endap Darah (LED) Terhadap Lama Pengobatan Pasien Tuberculosis’, Borneo Journal of Medical Laboratory Technology, 6(1), pp. 394–399. Available at: https://doi.org/10.33084/bjmlt.v6i1.6077.
  8. Kalma, K., Rafika, R. and Bahctiar, A.R. (2019). ‘Platelet and Hemoglobin Concentration in Tuberculosis Patients With Anti-Tuberculosis Medication’, Jurnal Media Analis Kesehatan, 10(2), p. 143. Available at: https://doi.org/10.32382/mak.v10i2.1302.
  9. Kemenkes RI, K.K. (2017). Buku Saku Pasien TB Resistan Obat. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.
  10. Kurniaji, I., Rudiyanto, W. and Windarti, I. (2023). ‘Anemia pada Pasien Tuberkulosis’, Medical Profession Journal of Lampung, 13(1), pp. 42–46. Available at: https://doi.org/10.53089/medula.v13i1.592.
  11. Magne, J., Guy, J. and Maynadié, M. (2015). Hematology, Revue Francophone des Laboratoires. Available at: https://doi.org/10.1016/S1773-035X(15)30080-0.
  12. Maulana, M.R. et al. (2024). ‘Hubungan Pengetahuan, Sikap, Perilaku Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien TB di Kota Semarang’, Gema Lingkungan Kesehatan, 22(1), pp. 1–5. Available at: https://doi.org/10.36568/gelinkes.v22i1.99.
  13. Mursalim et al. (2022). ‘Kadar Hemoglobin Pada Penderita Tuberkulosis Paru Yang Mengkonsumsi Obat Anti Tuberkulosis’, Jurnal Media Analis Kesehatan, 12(1), pp. 64–70.
  14. Nabilah, R. (2020). ‘Hubungan Kadar Limfosit Dan Monosit Dengan Tingkat Keparahan Pada Pasien Tuberkulosis Ekstra Paru’, Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 7(3), pp. 514–519. Available at: https://doi.org/10.33024/jikk.v7i3.2960.
  15. Nasution, S.D. (2015). ‘Malnutrisi dan Anemia Pada Penderita Tuberkulosis Paru’, Majority, 4(8), pp. 29–36.
  16. Permata, I.I., Achyar, K. and Kusuma, I.R. (2023). ‘Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia’, Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat, 3(3), pp. 135–142. Available at: https://doi.org/10.14710/jrkm.2023.18849.
  17. Setyarsih, L. et al. (2020). ‘Hubungan Tingkat Asupan Seng Dan Zat Besi Dengan Jumlah Leukosit Atlet Sepak Bola Remaja’, Journal of Nutrition College, 9(1), pp. 31–37. Available at: https://doi.org/10.14710/jnc.v9i1.26926.
  18. Setyowatiningsih, L. and Wikandari, R.J. (2023). ‘Risk Factors for Abnormal Hemoglobin Levels in Online Motorcycle Taxi Drivers in the Tanjung Mas Industrial Area, Semarang City’, Jaringan Laboratorium Medis, 5(2), pp. 104–109. Available at: https://doi.org/10.31983/jlm.v5i2.9564.
  19. Suryadinata, P.Y.A. et al. (2022). ‘Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Defisiensi Besi : a Systematic Review’, E-Jurnal Medika Udayana, 11(2), p. 6. Available at: https://doi.org/10.24843/mu.2022.v11.i02.p02.
  20. Verencia, A. et al. (2019). ‘Studi Pola Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tuberkulosis Paru’, Jurnal Surya Medika (Jsm), 8(1), pp. 161–167. Available at: https://journal.umpr.ac.id/index.php/jsm/issue/view/317.